Entah gimana kasus bom minggu lalu ini kini mengarah pada kesimpulan yang makin simpang siur. Pelaku bom bunuh diri sudah diambil sampel DNA-nya, tapi tak cocok dengan DNA tersangka. 'Orang dalam' hotel yang dicurigai ikut membantu proses peledakan ini tiba-tiba menghilang. Pondok pesantren lagi-lagi jadi disudutkan dan kembali dapat embel-embel negatif. Makin tidak jelas skenario global apa yang sedang kita hadapi saat ini.
Berita soal bom saat ini pun makin lama makin membuat muak. Apalagi kalau bukan berita tentang maraknya pihak-pihak iseng yang bikin teror lewat telepon atau SMS, mengancam akan mengebom gedung, sekolah, keduataan, mal dsb. Berita semacam ini bikin jengkel, apa sih untungnya bikin teror murahan seperti itu? Tidak ada bom yang meledak dengan terlebih dahulu si pengebom telepon ke calon korban, statistik membuktikan semua bom meledak tanpa pernah permisi. Konyol kan kalau mau ngebom permisi dulu, logikanya dimana???
0 comments:
Poskan Komentar