10 Juli 2009

Buat apa uang dua ribu?

Kemarin BI secara resmi menerbitkan uang pecahan baru dua ribu rupiah, berwarna abu-abu dengan gambar pahlawan dari Banjarmasin : Pangeran Antasari. "Penerbitan uang kertas emisi baru tersebut merupakan implementasi kebijakan Bank Indonesia di bidang pengedaran uang yaitu untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar," urai Miranda seperti yang dikutip dari detik.com.



Sebagai anak bangsa kita patut bangga dengan hadirnya uang baru ini. Desain dan warnanya keren, dan uang ini pertama kalinya ada dalam sejarah negeri ini, mengingatkan saat dahulu pertama kali keluar uang 20.000 yang juga bersejarah. Uang baru ini tampak memberi optimisme baru pada ekonomi Indonesia, dengan harapan mampu untuk membayar dengan lebih praktis daripada memakai uang seribu. Bayangkan saja, angka dua dan deretan tiga angka nol mengikutinya, gagah bukan...?

Apa yang lantas akan kita lakukan dengan hadirnya uang ini? Nyatanya, uang dua ribu ini adalah uang receh yang remeh temeh. Mungkin uang ini akan jadi uang kertas dengan nominal terkecil, apabila nantinya uang seribu akan tersedia hanya dalam versi koin saja (mungkin uang seribu memang sudah tidak ada kekuatan nilai tukarnya lagi hingga perlu dibuatkan uang versi dua ribu). Inilah bukti nyata merosotnya nilai uang kita, dimana inflasi terus menekan daya beli dan memaksa barang yang sama harus dibayar dengan nominal yang lebih tinggi lagi.

Mari berhitung-hitung, kira-kira uang dua ribu ini bisa dibelanjakan apa saja sih :
  • sepotong kue (risol, pastel, lemper, dsb)
  • satu sachet kopi instan
  • minuman teh (dalam) botol
  • sebungkus mie instan
  • sebuah buku tulis (isi 38 lembar)
  • satu strip obat sakit kepala (isi 4 butir)
  • parkir sepeda motor dua jam
  • menelepon dua menit
  • cetak selembar foto ukuran 4R
  • sebuah koin di pusat permainan anak-anak
  • bayar toilet umum untuk dua orang
Kira-kira itulah daftar barang/jasa yang bisa dibeli/dibayar dengan uang nominal dua ribu, atau angka dua dengan tiga angka nol dibelakangnya. Anda tentu bisa menambahkan sendiri daftar di atas, namun intinya tentu tak jauh berbeda dimana uang dua ribu hanya bisa dipakai untuk membeli sesuatu yang remeh temeh. Sulit untuk dibayangkan dengan nominal sebesar itu, bila di negara lain bisa setara dengan sebuah laptop ber-platform Intel Centrino, atau sebuah kamera DSLR Full Frame seperti Canon EOS 5D.

Di negara kita jangankan untuk membeli laptop atau kamera, saat ini bahkan uang dua ribu tidak bisa dipakai untuk membayar / membeli :
  • secangkir kopi di warung (3.000)
  • sepotong roti (3.500)
  • seliter bensin (4.500)
  • ongkos metromini (2.500)
  • sekeping CD-R kosong (2.500)
  • perangko pos kilat (3.000, hey, kapan terakhir anda membeli perangko?)
Semoga cawapres 2009-2014 mister Budiono yang konon katanya adalah ahli ekonomi bakal punya solusi jitu untuk mengatasi kenyataan ini. Bagaimana kalau saya usul dibuat kebijakan untuk membuang deretan tiga angka nol yang bikin pusing ini, supaya uang dua ribu jadi dua rupiah, gimana?

Note : perhatikan daftar harga makanan / minuman di kedai kopi di mal-mal Ibukota. Mereka memasang harga tanpa menulis tiga angka nol sehingga mengecoh pembeli. Bagaimana kita tidak bingung saat melihat harga donat kok 12 rupiah, atau secangkir kopi harganya 28 rupiah....

Update 17 Agustus 2009 : Terima kasih untuk Paman Tyo yang sudah membuat link ke artikel saya ini, sehingga statistik kunjungan artikel ini jadi naik....

1 comments:

  1. Yah bisa dapat apa selain bayar parkir? Makin berat aja ya. Tapi gimana lagi. Terima kasih atas koreksi Anda.

    BalasHapus