Saya kerap meledek kawan kerja saya dengan statement : kamu sih tidak multi-tasking... Ungkapan itu terlontar tatkala saya ajak dia bicara namun dia justru tampak sedang memikirkan sesuatu yang lain, atau sedang membaca SMS di ponselnya. Dengan entengnya lantas dia menjawab : tidak ada manusia yang bisa multi-tasking kok.Betul memang, tidak seperti sebuah prosesor komputer berinti dua atau empat, otak manusia (meski ada otak kiri dan kanan) hanya bisa memikirkan satu hal dalam satu waktu. Bila ada beberapa aktivitas yang harus diproses otak maka itu harus dilakukan secara seri atau berurutan. Tapi jangan dibayangkan seperti menulis blog sambil mendengarkan musik, itu lain cerita ya.. (karena musiknya tidak benar-benar didengarkan, hanya jadi suara latar yang menemani kegitan nge-blog). Yang saya maksud, otak manusia tampaknya tidak bisa memproses dua informasi secara bersamaan. Misalnya bila kita menyimak sebuah ceramah sambil membaca email, tentu salah satu akan bias dan tidak tercerna dengan baik.
Maka itu istilah multi tasking sebetulnya adalah harapan pada seseorang supaya saat dia sedang memproses informasi di otaknya, dia juga dapat siap mengolah informasi lainnya yang ada dalam daftar antriannya. Istilah yang lebih tepat sebenarnya adalah Rapid refocusing, dimana saat otak beralih dari informasi satu ke informasi lain, dia bisa cepat beradaptasi dan siap memprosesnya. Contohnya, saat saya sedang berbincang dengan seseorang tiba-tiba ada SMS masuk, saya mencoba teknik ini dengan melatih otak untuk menyimak isi SMS sebentar, lalu kembali menyimak lawan bicara sebentar, kembali membaca SMS dan seterusnya. Dengan kemampuan rapid refocusing yang baik, semestinya saya bisa memproses kedua informasi berbeda itu secara bersamaan (meskipun harus bergantian). Namun tentu trik ini tidak selalu berhasil, apalagi membaca SMS saat sedang diajak bicara orang lain tentu akan menyinggung perasaannya...
Pada kasus tertentu mungkin bisa dijumpai ada orang yang bisa melakukan dua hal bersamaan seperti tangan kanan dan kiri bisa menulis sesuatu yang berbeda, ini mungkin memang suatu kelebihan atau buah dari proses latihan yang intensif. Namun tatkala manusia umumnya hanya bisa memproses satu informasi dalam satu waktu, alangkah baiknya melatih rapid refocusing guna mengantisipasi kesibukan dunia kerja yang menuntut kita fokus pada semua masalah dan tugas-tugas.
0 comments:
Poskan Komentar