20 Mei 2009

I love ISO 1600 (oleh-oleh dari Palembang)

Tiga hari dinas ke Palembang kemarin tentu tak saya sia-siakan untuk sekalian jepret-jepret iseng. Berhubung cuma mengandalkan lensa-lensa zoom yang murah, saya sering dihadapkan pada keterbatasan dari bukaan diafragma lensa yang kecil. Hanya ada satu cara untuk mendapat eksposure yang sesuai saat kondisi mulai memburuk (baca : low light), yaitu memakai ISO (ter)tinggi. Ya, kalau perlu hingga ISO 1600, kenapa tidak?

ISO 1600 merupakan ISO tertinggi pada kamera Nikon D40. Diatas itu memang masih ada ISO lain setara ISO 3200 namun hasil fotonya sudah tidak layak dilihat akibat noise yang parah. Tapi hasil foto yang diambil memakai ISO 1600 pada kamera DSLR masih cukup layak untuk dinikmati, tak seperti ISO 1600 yang dihasilkan oleh kamera saku. Dengan memakai ISO 1600, bisa didapat eksposure yang diinginkan saat si bukaan lensa sudah tidak bisa membuka lebih besar lagi, dan shutter tidak lagi bisa dibuat lebih lambat (karena saya tidak membawa tripod). Keuntungan ini membuat lensa lambat tidak lagi menjadi hal yang menyulitkan saat ISO tinggi.

Meski saya sudah sering memotret memakai ISO 1600, kali ini saya hanya menampilkan contoh foto-foto terakhir yang saya ambil si sekitar hotel di Palembang. Waktu pengambilan antara malam hari dan pagi hari yang sangat perlu lensa bukaan besar.

So, jangan takut memakai lensa lambat / lensa zoom murah. Kalau bukaan lensa sudah mentok, naikkan saja ISO nya ke level tertinggi. Pakai ISO 1600? Sipa takut........

0 comments:

Poskan Komentar