27 Maret 2009

Tragedi Situ Gintung : musibah, kelalaian, terlambat bertindak atau ketidakpedulian?

Dini hari tadi, musibah air bah akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Kec. Ciputat, Tangerang Selatan telah meluluhlantakkan ribuan rumah dan manusia yang tengah terlelap didalamnya. Tercatat lebih dari 40 jiwa tewas, sementara banjir air bah ini telah menghancurkan ribuan rumah, menghanyutkan harta benda termasuk mobil-mobil pribadi ikut terseret arus hingga saling tumpang tindih tidak karuan. Tayangan di TV tentang musibah ini mengingatkan saya pada bencana tsunami yang terjadi di Aceh lima tahun silam, hanya saja kali ini diakibatkan oleh tumpahnya air dalam skala besar yang selama ini ditampung di sebuah danau seluas 21 hektar dan berkedalaman 10 meter.



Situ Gintung merupakan danau yang sebagian areanya memiliki ketinggian lebih tinggi dari pemukiman penduduk di bawahnya. Artinya secara psikologis semua warga yang bermukim di bawah tanggul itu tentu sadar bahwa resiko tanggul jebol setiap saat mengancam. Nyatanya, warga pun mengakui telah menemukan beberapa kali peristiwa tanda-tanda awal kebocoran tanggul. Menurut detik.com diberitakan kalau sejak November 2008 silam, warga telah memberitahukan masalah keretakan tanggul ini kepada pihak berwenang. Bahkan sudah 2 tahun kebelakang warga mulai resah karena merasakan ada yang tidak beres dengan struktur tanggul ini. Berikut kutipan dari detik.com :
"Indikasi kalau tanggul bermasalah itu sudah muncul sejak November 2008 waktu itu kan jebol tapi nggak parah. Dan warga sudah khawatir sudah sejak 2 tahun terakhir ini," kata Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Slamet Daroyni kepada detikcom, Jumat (27/3/2009). Namun, menurut Slamet, kekhawatiran warga tersebut tidak mendapat respons yang signifikan dari pemerintah setempat. Slamet pun menilai, pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Tangerang telah lalai dan membiarkan keselamatan masyarakat terancam. "Seharusnya pemerintah memastikan masyarakat terselamatkan dari ancaman. Ada kelalaian oleh pemerintah setempat terkait dengan kondisi tanggul yang sebetulnya sudah tidak layak," tandas Slamet.
Tragedi bencana alam ini tentu merupakan suatu musibah yang perlu disikapi dengan bijak dan sabar, namun demikian pertanyaan mengapa ada kesan pemerintah membiarkan ini semua terjadi terus menggelitik dan meninggalkan rasa penasaran dalam benak saya. Inikah kebiasaan lama yang susah hilang : lalai dalam menjaga amanah konstitusi (untuk melindungi setiap warga negara), lagi-lagi selalu terlambat dalam bertindak (setelah ini tanggul baru AKAN dibuat kokoh dengan memanggil ahli dari Jepang) ataukah bentuk ketidakpedulian pihak berwenang yang tengah sibuk menyongsong pemilu (yang kurang dari 2 minggu lagi)?

Ah, Indonesia...

(foto diatas hak cipta dari detik.com)

0 comments:

Poskan Komentar