31 Desember 2008

Selamat tahun baru (dalam keprihatinan)

Tahun baru Islam 1430 H baru saja berselang, tahun baru 2009 pun sudah di depan mata. Jarang lho ada dua perayaan tahun baru yang hanya berlangsung dengan jarak hanya 3 hari. Saat yang tepat buat berkaca dan mengevaluasi pencapaian tahun 2008, dan juga menyusun target dan harapan untuk tahun 2009.

Situasi ekonomi global yang memburuk di akhir tahun 2008 tentu membuat kita khawatir akan apa yang akan terjadi di tahun 2009. Terlepas ini adalah buah dari sistem ekonomi kapitalis, tetap saja dampaknya akan mengena ke berbagai sektor utamanya sektor riil. Gelombang PHK, inflasi tinggi, kredit macet dan masalah moneter lain membayangi kegembiraan perayaan tahun baru 2009 di seluruh dunia.

Pergantian tahun baru Islam 1430 kemarin pun tak lepas dari kondisi keprihatinan. Seakan ingin 'merayakan' tahun baru Islam, zionis biadab Israel serta merta membombardir saudara kita di Palestina. Kaum pejuang, kaum sipil, wanita, anak-anak, sekolah, rumah sakit dan pemukiman menjadi sasaran empuk mereka. Hingga menjelang malam pergantian tahun 2008 ini, tidak ada tanda-tanda serangan itu akan berakhir. Padahal korban jiwa tercatat telah mencapai lebih dari 300 orang, dan ribuan lainnya luka-luka. Sungguh kondisi yang memprihatinkan..

Selamat (menjelang) tahun baru 2009, meski dalam kondisi penuh keprihatinan. Tak usahlah pergantian tahun nanti malam dirayakan secara berlebihan, tak perlu lah ber-eforia tanpa makna, jauhilah pesta pora penuh kemubaziran. Cukuplah merenung akan kondisi dunia yang memprihatinkan ini dan bersyukur bahwa kita masih tetap dapat merasakan nikmat saat yang lain sedang dalam musibah.

17 Desember 2008

Ketika harga semakin tak terjangkau

Inflasi sudah menjadi hal yang lumrah dalam ekononi dunia. Di Indonesia, faktor yang satu ini menjadi sesuatu hal yang tidak linear dengan pertumbuhan ekonomi dan daya beli akibat krisis jilid satu yang belum pulih (plus krisis jilid dua yang sudah mulai terasa dampaknya). Akibat inflasi jelas harga terus naik, sementara pendapatan pas-pasan, bahkan ada juga yang justru berkurang. Masalahnya masyarakat cenderung sudah punya batasan harga untuk tiap produk yang ingin dibelinya, dan kenaikan harga ini akan membuat batasan itu terlewati. Akhirnya, kebanyakan masyarakat akan menahan diri untuk membeli sesuatu yang harganya sudah melewati batasan yang dibuatnya sendiri.

Ambil contoh begini. Sekotak keju batangan sudah terlanjur direkam dalam benak saya harganya sekitar sepuluh ribu. Saat inflasi membuat harga keju ini naik menjadi lima belas ribu lebih, saya akhirnya memutuskan untuk tidak membeli keju ini. Cerita selanjutnya adalah, saya harus memilih antara mencari produk keju merk lain yang harganya lebih murah atau beli keju yang merknya sama tapi ukurannya lebih kecil. Pilihan kedua ini dirasa lebih realistis buat saya karena saya tidak harus beradaptasi dengan produk lain (yang rasanya dan mutunya belum tentu sama), dan saya hanya harus lebih berhemat karena kini keju yang saya beli ukurannya lebih kecil.

Demikianlah mindset ini telah merasuk kedalam benak sebagian besar masyarakat dalam menyikapi kenaikan harga ini. Produsen pun tak kalah pintar, dengan cepat mereka menangkap sinyal ini dan bereaksi dengan membuat produk mini yang harganya dirasa masih terjangkau oleh masyarakat. Akhirnya jangan heran bila tahun-tahun belakangan ini banyak sekali produk konsumsi dan produk rumah tangga yang dikemas dalam ukuran kecil, bahkan terlalu kecil menurut saya. Sebut saja susu cair dengan ukuran kotak yang kecil, biskuit yang sebungkus isinya cuma dua, roti tawar yang isinya cuma empat lembar, es krim mini dan masih banyak lagi.

Bagi konsumen, prinsipnya yang penting membeli. Meski hanya dapat yang kecil, tapi harga jualnya masih dalam batasan yang diperbolehkan (oleh batasan mereka). Mereka tidak peduli kalau barang yang dibelinya akan lebih cepat habis (karena lebih kecil) dan ujung-ujungnya mereka harus membeli lagi (bila masih kurang). Bagi produsen, tentu yang penting penjualan laris, dan ini tidak akan terwujud bila tidak dilakukan terobosan dengan produk mini yang terjangkau.

Muncul tanda tanya di benak saya. Bagaimana bila suatu saat nanti produk mini ini harganya pun semakin mahal? Okelah, sekarang keju kecil ini harganya cuma lima ribu. Bila nanti keju kecil ini sudah jadi sepuluh atau dua puluh ribu, siapa yang mau beli? (anggap pendapatan masyarakat tidak banyak berubah). Masalahnya bukan pada pendapatan dan daya beli yang rendah, dan jangan salahkan kebanyakan orang kenapa mereka tidak kaya. Karena bila harga terus membumbung tinggi, hanya masalah waktu saja hingga orang kayapun (suatu saat nanti) akan menjadi miskin. Masalahnya ada di sistem tatanan ekonomi negara ini yang amburadul, dengan distribusi uang yang tidak merata, dan ditambah ekonomi biaya tinggi yang membuat lingkaran setan tanpa ujung. Ah....

10 Desember 2008

Harga Pertamax dan Pertamax Plus turun (lagi)

Artikel terkait baca disini.

Mulai hari ini, Pertamina kembali menurunkan harga BBM jenis Pertamax dan Pertamax Plus. Lama-lama bisa jadi harga Pertamax dapat mencapai harga premium sebelum diturunkan (Rp. 6.000). Kalau sudah begitu, harga premium saat ini (Rp. 5.500) nanti akan terasa mahal dan pemerintah seharusnya cepat atau lambat mau menurunkan harga premium ke kisaran Rp. 4.000 (demikian juga harga solar).

Update : Pada 15 Desember 2008 pukul 00.00 WIB harga premium diturunkan menjadi 5.000 dan solar menjadi 4.700 per liter.

02 Desember 2008

Mari mensubsidi pemerintah

Ingin membantu perekonomian negara? Mudah saja, belilah premium untuk BBM kendaraan anda. Dengan membeli premium seharga Rp. 5.500 (harga baru berlaku efektif mulai kemarin), kita sudah mensubsidi pemerintah sejumlah Rp. 500 dari tiap liter premium yang kita beli. Kok bisa? Karena harga minyak dunia saat ini sudah turun hingga berada dibawah US$ 50 per barel, sehingga menurut Anggota Komisi VII DPR Alvin Lie, harga keekonomian premium saat ini adalah Rp. 5.000 per liter.

Jangan tanya saya soal program BLT yang dulu digembar-gemborkan pemerintah sebagai kompensasi pengalihan subsidi akibat kenaikan harga BBM di bulan Mei 2008 silam. Bayangan saya sih kalau sekarang kita yang (gantian) mensubsidi pemerintah, maka cadangan dana BLT seharusnya jadi bertambah banyak kan?

Bagaimana kalau ada dari kita yang tidak 'rela' kalau harus mensubsidi pemerintah? Gampang, pakai saja Pertamax. Harga Pertamax sudah Rp. 6.800 per liter dan dengan duit dua puluh ribuan, tanki BBM motor bebek sih sudah bisa dibuat (hampir) penuh. Pertamax lebih irit, lebih bertenaga, lebih bergengsi, dan bebas sakit hati (karena tidak mensubsidi pemerintah....!)

Please, jangan meninggalkan komentar dengan tulisan : Pertamax :)

01 Desember 2008

Too good to be true

Ada email nggak jelas masuk ke mail box di di account kantor saya. Pengirimnya mengaku bernama Rina, yang memakai account di plasa.com. Isi email ini amat menarik, bahkan too good to be true, seperti berikut ini :

Dear Rekan2,
Kenalkan saya Rina, mahasiswi salah satu universitas
swasta di Bandung.

(kampusnya dimana neng?)

Rina pengen berbagi informasi nih buat kita semua,
mudah2an bermanfaat.

(amin...)

Barangkali ada dari rekan2 yg sedang butuh dana/income
dalam jumlah besar..

(ya iya lah, hari gini siapa yang gak butuh dana, apalagi jumlahnya besar)

Rekan2 bisa baca cara mendapatkannya disini (silakan klik
atau copy-paste link berikut ke browser anda) :
http://www.***********.com

Iseng2 rina udah coba, dan hasilnya udah lumayan banget
utk ukuran rina (lihat rincian income rina dibawah).

(bener nih?)

Program ini dijalankan secara online (maya), tapi uang yg
dihasilkan betul2 riil. Ada transaksi, ada produk, logis,
masuk akal, dan tidak ada satu pihak pun yg dirugikan
dalam program ini.. Makanya rina yakin program ini legal &
halal.

Websitenya (http://www.***********.com)
menjelaskan secara lengkap semua hal tentang program ini
sampai sejelas2nya. Mungkin dipahami dulu aja sistem/cara
kerja program ini secara keseluruhan di websitenya. Rina
yakin, semua uneg2 / pertanyaan2 dari rekan2 pasti akan
terjawab jika membaca semua materi yg ada pada setiap menu
di website tsb. Pastikan rekan2 tidak mengambil
kesimpulan/berkomentar apa2 dulu sebelum betul2 membaca
semua materi yg ada pada setiap menu di website, karena
program ************ ini unik, berbeda dg bisnis manapun
yg pernah ada.

Rina dulu juga gabung atas ajakan teman yg udah duluan
mendaftar. Tadinya sih rina gak mau berpikir muluk2, asal
bisa balik modal aja udah cukup, lagian kita kan dapat
produk yg nilainya bahkan lebih besar dari yg kita
bayarkan. So, nothing to loose.
Tapi ternyata apa yg rina peroleh sungguh di luar
perkiraan rina. Setelah 8 bulan gabung (s/d Oktober 2008)
udah lumayan banget dapatnya.

Rincian income Rina (s/d Oktober 2008) adalah sbb:

Rina dapat "member langsung" sebanyak 17 orang (disebut
member level-1)
=> komisi yg ditransfer ke rekening Rina = 17 x Rp
50.000 = Rp 850.000
(komisi ditransfer langsung oleh calon member ke para
Sponsor)

Masing2 member level-1 diatas mendapatkan pula member
rata-rata sebanyak 8 orang (disebut member level-2, jumlah
= 8 x 17 = 136 orang)
=> komisi yg ditransfer ke rekening Rina = 136 x Rp
10.000 = Rp 1.360.000

Masing2 member level-2 rata2 mendapatkan member 6 orang
(disebut member level-3, jumlah = 6 x 136 = 816 orang)
=> komisi yg ditransfer ke rekening Rina = 816 x Rp
10.000 = Rp 8.160.000

Masing2 member level-3 rata2 mendapatkan member 4 orang
(disebut member level-4, jumlah = 4 x 816 = 3264 orang)
=> komisi yg ditransfer ke rekening Rina = 3264 x Rp
10.000 = Rp 32.640.000

Masing2 member level-4 rata2 mendapatkan member 3 orang
(disebut member level-5, jumlah = 3 x 3264 = 9792 orang)
=> komisi yg ditransfer ke rekening Rina = 9792 x Rp
50.000 = Rp 489.600.000

Jadi, total komisi yg ditransfer ke rekening Rina hingga
saat ini (setelah 8 bulan gabung):
= 850.000 + 1.360.000 + 8.160.000 + 32.640.000 +
489.600.000
= Rp 532.610.000,-

Lumayan banget utk ukuran rina. Uang segitu udah cukup
bagi rina buat beli rumah and mobil.
Rina yakin kita semua bisa kok mendapatkan income seperti
yg Rina dapatkan di atas. Kuncinya sih asal kita rajin aja
nyebarin link website replika kita ke teman2 kita, rekan
kerja, sodara, ke siapa saja, baik lewat email, milis2,
situs2 iklan, dll. (Website replika adalah website atas
nama kita sendiri yg kita dapatkan secara otomatis setelah
keanggotaan kita diaktifkan). Setiap transaksi yg terjadi
lewat website replika kita, otomatis masuk rekening
pribadi kita.

(lima ratus juta kok lumayan neng? Btw, skema komisi mirip MLM ya?)

Tidak perlu kuatir pengembangan Program ********* ini
akan jenuh, karena pertumbuhan pengguna internet di
Indonesia yg mencapai 6 juta orang lebih per tahun jauh
lebih besar dibanding pertumbuhan peserta program ini.
Jadi tidak akan ada istilah "member terakhir" dalam
program ini, karena akan selalu ada 6 juta orang lebih
pengguna baru internet tiap tahunnya.

Rina punya trik2 / tips2 jitu agar bisa merekrut banyak
member berdasarkan pengalaman rina sendiri, gak banyak
orang yg tahu. Rina bisa share jika rekan2 bergabung lewat
account rina:
http://www.***********.com


Segera gabung ya..


Mohon disebarkan juga informasi ini ke teman2 kita yg lain
yg sedang membutuhkan dana dlm jumlah yg besar.

(ini kalimat yg umum dipakai untuk menyebarkan spam, hoax atau apapun lewat email)

Salam,
Rina
Rina's profile :http://www.friendster.com/*************
"UANG BUKAN SEGALANYA, TAPI SEGALANYA PERLU UANG"

(slogan yang menarik namun menjebak, kalo perlu uang ya kerja dong neng...)

Saya salut akan adanya website bisnis yang amat menjanjikan ini. Semoga bisa membuat 220 juta rakyat Indonesia terangkat dari garis kemiskinan. Tapi kadang kita harus memakai logika dan sense dalam menalar setiap informasi yang menawarkan jalan instan dalam berbisnis, karena kokoh dan mapannya suatu bisnis kan dibangun dari dasar pondasi yang kuat. Too good to be true, tapi mungkin saja benar adanya. Tertarik? (saya sih tidak)...